MAKASSAR — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tahun ini menjadi semakin istimewa. Di tengah khidmatnya pelaksanaan upacara, sebuah penghargaan kehormatan diberikan kepada sosok yang selama tiga dekade telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan pelayanan kepada negara.
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, Ph.D., menerima Satyalancana Karya Satya XXX Tahun, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian panjangnya sebagai aparatur sipil negara.
Penghargaan tersebut disematkan secara langsung oleh Ketua Senat UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., dalam rangkaian Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan UIN Alauddin Makassar.
Prosesi penyematan berlangsung khidmat dan penuh penghormatan. Ketua Senat didampingi oleh Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK), Prof. H. Andi Aderus, Lc., M.A., serta Kepala Biro AUPK, H. Anwar Abubakar, M.Pd.
Penyematan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun tersebut menjadi penanda perjalanan panjang 30 tahun pengabdian Prof. Hamdan Juhannis dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara sekaligus sebagai bagian dari perjalanan panjang UIN Alauddin Makassar.
Satyalancana Karya Satya XXX Tahun bukan sekadar tanda kehormatan yang disematkan pada seragam seorang aparatur. Di balik tanda tersebut terdapat perjalanan panjang yang diisi dengan pengabdian, tanggung jawab, dinamika, dan dedikasi terhadap institusi serta negara.
Bagi Prof. Hamdan Juhannis, penghargaan tersebut hadir dalam posisi yang sangat istimewa. Saat ini, ia dipercaya memimpin UIN Alauddin Makassar sebagai Rektor dan berada di garis depan dalam mengarahkan perjalanan institusi menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan perubahan pendidikan tinggi.
Tiga puluh tahun pengabdian menjadi perjalanan yang mempertemukan berbagai fase dalam kehidupan akademik dan kelembagaan—dari ruang pengabdian sebagai seorang akademisi hingga amanah kepemimpinan sebagai Rektor.
Karena itu, penyematan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun dalam kapasitasnya sebagai Rektor menghadirkan pesan yang kuat: bahwa kepemimpinan pada akhirnya dibangun dari perjalanan pengabdian yang panjang.
Dalam prosesi tersebut, Ketua Senat UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., secara langsung menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun kepada Rektor.
Prosesi berlangsung di hadapan peserta upacara dan jajaran pimpinan UIN Alauddin Makassar. Kehadiran Wakil Rektor II Bidang AUPK dan Kepala Biro AUPK turut memberikan makna tersendiri, mengingat keduanya memiliki keterkaitan langsung dengan tata kelola administrasi, organisasi, dan kepegawaian di lingkungan universitas.
Penyematan tersebut menjadi salah satu momen yang mendapat perhatian dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di UIN Alauddin Makassar.
Satyalancana Karya Satya merupakan bentuk penghargaan negara terhadap aparatur yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas.
Dalam konteks perguruan tinggi, pengabdian seorang ASN memiliki ruang kontribusi yang luas. Ia tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan tugas administratif, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kelembagaan, serta pelayanan publik.
Perjalanan tiga puluh tahun pengabdian Prof. Hamdan Juhannis menjadi bagian dari perjalanan UIN Alauddin Makassar itu sendiri.
Dari waktu ke waktu, perubahan institusi berjalan beriringan dengan perjalanan para insan yang mengabdikan dirinya di dalamnya. Karena itu, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan personal, tetapi juga menjadi bagian dari catatan perjalanan kelembagaan UIN Alauddin Makassar.
Penerimaan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun oleh Rektor diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh ASN di lingkungan UIN Alauddin Makassar untuk terus menjaga integritas, loyalitas, profesionalitas, dan semangat pengabdian.
Penghargaan atas tiga dekade pengabdian tersebut juga menjadi pesan bahwa perjalanan karier seorang ASN tidak semata-mata tentang jabatan, tetapi tentang sejauh mana kehadirannya mampu memberikan manfaat bagi institusi, masyarakat, bangsa, dan negara.
Di tengah momentum kemerdekaan, penghargaan tersebut menjadi refleksi bahwa mengisi kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui pengabdian yang konsisten di bidang masing-masing.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Ia adalah perjalanan yang menyimpan pengalaman, perjuangan, dan tanggung jawab.
Dan pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, perjalanan itu mendapatkan sebuah tanda kehormatan: Satyalancana Karya Satya XXX Tahun—sebuah simbol atas tiga dekade pengabdian untuk negeri dan pendidikan.